21.54 | Posted in

Pada sekitar awal tahun 1960, Bung Karno melakukan kunjungan kerja ke Bandung untuk meyampaikan kuliah umum kepada para mahasiswa Bandung dihalaman depan kampus ITB jalan Ganesha.

Setiba dilapangan udara Andir (Husein Sastranegara) Presiden/Panglima Tertinggi Soekarno disambut oleh penguasa Perang Daerah/Panglima Kodam VI Siliwangi Kolonel R.A Kosasih. Setelah menyalami para penyambutnya kemudian Presiden dipersilahkan untuk memeriksa Pasukan Jajar Kehormatan bersenjata dengan sangkur (penghormatan senjata dengan pasang sangkur menurut ketentuan hanya diberikan kepada Sang Saka Merah Putih dan Presiden RI). Dengan didampingi oleh Panglima Siliwangi, Presiden/Panglima Tertinggi diiringi korps musik memeriksa Pasukan Jajar Kehormatan yang memberikan Penghormatan Militer. Setelah itu, sebelum memasuki mobil yang akan mengantarnya ke kampus ITB, Presiden bertanya kepada Panglima “Kos, itu tadi pasukan darimana kok enggak pakai tanda pangkat?”, Pak Kosasih menjawab “Itu tadi adalah pasukan Resimen Mahasiswa yang sedang dipersiapkan untuk membantu “Operasi Pagar Betis” menumpas gerombolan DI/TII Kartosuwirjo”

Kemudian kepada Kololel R.A Kosasih, Bung Karno berpesan agar dibina dengan baik karena mereka adalah calon-calon pemimpin. Diantara anggota Resimen Mahasiswa tersebut yang dikemudian hari menjadi tokoh nasional adalah Ir. Siswono Yudo Husodo.

Ketika PKI gagal membentuk angkatan V (buruh dan tani yang dipersenjatai) karena ditentang oleh TNI (Men.Pangad Jend. A.Yani), DN Aidit mengadu ke Bung Karno sambil mengajukan protes mengapa TNI diijinkan membangun Resimen Mahasiswa, sambil menunjukkan radiogram Menko Hankam Kasab No.A3/3046/64 tertanggal 21 April 1964 yanag ditujukan kepada semua Panglima Daerah untuk membentuk dan menyeragamkan Resimen Mahasiswa yang ada disetiap Kodam.

Karena yang menandatangani radiogran tersebut adalah Jend. A.H Nasution sendiri, maka Pak Nas dipanggil Bung Karno untuk klarifikasi. Kepada Bung Karno, Pak Nas menjelaskan tentang maksud dan tujuan radiogram tersebut:

Menertibkan dan menyatukan bermacam-maacam Resimen Mahasiswa yang timbul sebagai akibat adanya instruksi Menteri PTIP (Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan) No.1 tahun 1962 tertanggal 15 Januari tentang pembentukan Korps Sukarelawan dilingkungan Perguruan Tinggi dalam rangka Trikora Pembebasan Irian Barat.

Sebagai titik awal untuk merintis Program Pendidikan Perwira Cadangan melalui Perguruan Tinggi (ROTC: Reserve Officers Training Corps)

Dalam upaya melestarikan tradisi semangat bela negara dan patriotisme dikalangan intelektual muda seperti yang telah dibuktikan dalam perang kemerdekaan oleh Tentara Pelajarv/ Corps Mahasiswa.

Sebelum meninggalkan istana, Pak Nas bertanya kepada Bung Karno, bagaimana kelanjutannya untuk mengikuti petunjuk beliau, jawaban Bung Karno amat singkat “Teruskan!”

Sebagai akibat “instruksi” Presiden maka munculah Resimen-Resimen Mahasiswa disetiap Kodam. Di Jawa Barat Menteri PTIP Prof. Toyib Hadiwijaya memberi nama “Resimen Mahawarman”. Di Jakarta Pak Nas memberi nama “Resimen Mahajaya”. Di Jogyakarta Jenderal Yani memberi nama “Resimen Mahakarta” dan seterusnya.

Di akhir tahun 1965, terdesak oleh demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang tergabung dalam KAMI dan terpengaruh oleh siaran Radio Australia yang menyiarkan berita bahwa TNI akan menggerakkan Resimen Mahasiswa, maka DN Aidit kembali mengadu ke Bung Karno di istana dengan permintaan agar Bung Karno sesegera mungkin membubarkan Resimen Mahasiswa yang “ternyata” adalah tentaranya Nasution yang dibiayai oleh CIA.

Ternyata setelah itu Bung Karno tidak membubarkan Resimen Mahasiswa, tertapi malah membubarkan KAMI, bahkan HMI pun tidak dibubarkan.

Kisah-kisah tersebut dikisahkan sendiri oleh alm. Letjen TNI (Purn) R.A Kosasih kepada penulis sewaktu penulis menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Mahasiswa “Mahawarman”, Jawa Barat pada tahun 1970.

Dahulu di Jawa Barat anggota Resimen Mahasiswa sebelum menerima penyematan baret pada acara pelantikan, harus terlebih dahulu mengucapkan atau sumpah yang disebut “Panca Dharma Satya Resimen Mahasiswa”.

Panca Dharma Satya mengandung lima nilai kesetiaan, yaitu:

Setia kepada sang Saka Merah Putih.

Setia kepada Pancasila.

Setia kepada Konstitusi (UUD 1945 yang asli)

Setia kepada negara (NKRI)

Setia kepada cita-cita dan nilai-nilai kejuangan bangsa.

Menurut Pak Sutikno Lukitodisastro (mantan Sekretaris militer Presiden) “Panca Dharma Satya” itulah yang membuat Bung Karno tidak mau membubarkan Resimen Mahasiswa karena menganggap Resimen Mahasiswa merupakan salah satu wujud dari “Nation and Character Building”.

Sekarang di era reformasi ini, pemerintah sengaja membiarkan Resimen Mahasiswa mati sendiri. Bahkan dikalangan elemen mahasiswa menganggap Resimen Mahasiswa adalah salah satu bentuk militerisme dan alatnya TNI, jadi harus dibubarkan.

Kiriman:

Tjipto Su.kardhono

Gedung Juang 45

Jl. Menteng Raya 31

Jakarta Pusat


Yang bersangkutan pernah hadir dan memberikan ceramah dihadapan anggota Menwa Mahakarta, pada acara Musyawarah Nasional Ikatan Alumni Menwa Yon 4 UPN Yogyakarta - Paguyuban Babarsari Satu (PBS) pada Bulan July 2000 di Kampus UPN Veteran Yogyakarta



Category:
��

Comments

0 responses to "Sejarah Resimen Mahasiswa Indonesia"